Era Tinggal di Jakarta (2017- ...)

Catatan Harian 69 : Kembali Keliling Jakarta dengan Transjakarta


Fren,
waktu terus berjalan dan udah 11 tahun sejak kita masuk kuliah , 7 tahun setelah kita lulus. 7 tahun yang  buanyak banget kita syukuri, tahun-tahun penuh perubahan, penuh pencapaian, penuh rezeki. Seperti itu juga hari ini, ada banyak hal pagi ini yang bisa kita syukuri. Saya yakin semuanya setuju.

Soal pernikahan kemarin, sebenernya saya mau share tentang beberapa kisah :

1. Kisah seorang ketua yayasan disini yang diuji saat anaknya terkena penyakit syaraf di usia SMP, hingga rumah tangganya agak sedikit berguncang, namun beliau tetap sabar meski ada perubahan karakter yang tidak beliau sadari

2. kisah seorang ustadz yang diuji saat anaknya yang baru 5 tahun jatuh saat bermain hingga sang anak tidak bisa tumbuh normal seperti anak-anak lain

3. Kisah seorang istri dari jama’ah masjid yang begitu sabar menjadi tulang punggung keluarga saat sang suami harus kehilangan penglihatannya di usia produktif, saat anaknya masih sekolah, namun Allah mengaruniakan kepadanya anak yang sholih dan hati yang dermawan sampai menjadi donatur tunggal konsumsi setiap pengajian malam jum’at.

Fren,
Jika hidup kita masih panjang, kita tidak pernah tahu akan seperti apa hidup kita nanti, apakah lebih baik atau tidak, tidak tahu ujian seperti apa yang akan menghadang

Kita masih muda, sementara itu di sekitar kita ada banyak orang yang menjalani hidup lebih dulu yang bisa kita pelajari. Akan seperti apa kita nanti? Ada beberapa kisah yang ingin saya bagi soal bagian yang ini :

1. Kisah marbot mesjid deket rumah, seorang D3 mantan kontraktor yang sudah mengunjungi banyak kota di banyak provinsi, yang tetap rajin baca buku disela-sela aktifitasnya, usianya mungkin sudah 70 tahun, namun beliau menjalani kesendirian tanpa keluarganya

2. kisah seorang bapak di mesjid sebelah, yang cuma diam di mesjid dari subuh hingga isya, entah apa dan kenapa?

3. Kisah seorang karyawan yang sudah bekerja 30 tahun diposisi yang sama, yang kini hanya menunggu masa pensiunnya dan menjalani hidup seperti biasa dan begitu terus berpuluh tahun

Atau banyak kisah lain…

Intinya dari cerita panjang ini, ada baiknya kita dan saya bilang pada diri saya sendiri untuk tetap bersyukur dengan apa yang ada di hari ini, tidak sombong disaat maju, tidak lupa dengan sesama, tetap sabar dan anti putus harapan saat diuji, tetap melakukan yang terbaik, berdo’a yang terbaik, berusaha yang terbaik untuk masa depan seperti yang kita inginkan.

Kita tidak pernah tahu seperti apa kita nanti, seperti 7 tahun lalu kita tidak tahu akan ada apa di hari ini.

(My share in Alumni 2011)

Itu adalah kutipan WA hari ini, udah dua pekan ini jadinya malah ngurusin WA terus. Sebenernya menyenangkan bisa ngobrol sama kawan lama, meski kadang ga semuanya asyik atau gak seasyik dulu, meskipun gak ngasilin uang, cuma bisa lebih seneng aja. Cuma kok jadinya kayak ngeganggu orang. Hah, gimana sih harusnya ngemenej grup WA?

Orang udah berubah, bikin grup salah, dibubarin salah, aktif salah, dan saat sesuatu terlalu merajai hatimu. Ada saatnya kamu untuk pergi. Benarkah?

Memang repot saat kita terlalu mencintai sesuatu. Apalagi saat sesuatu itu biasa-biasa aja sama kita.

kadang ingin mulai menjalani sesuatu yang balu, sesuatu yang berprogress, sesuatu yang menghasilkan, sesuatu yang membuat posisi lebih maju, mulia dan mapan. Tapi apa? Tapi jika diingat-ingat dengan menatap berbagai macam jalan yang sempat  terfikirkan. Permasalah sebenarnya bukan apa, tapi kapan?

Sabtu, 28 Juli 2018

kalau boleh milih satu kata buat weekend kali ini, maka entah kenapa pengen bilang : garing. Saya tahu ini seperti tidak bersyukur, dan nyatanya itu tidak nyata, tapi mungkin sesekali saya harus meyadari itu. Bahwa hari ini tuh rasanya garing dibandingkan dengan akhir pekan lain yang pernah dilewati, sayang aja gitu weekend dilewati kaya gini.

Moment yang paling ingin saya ingat adalah saat mengajak Najmi ke imar dan kita berdua membeli freezy, sirup dingin dengan bulir es batu yang khas. Saya rasa kelapa dan Najmi rasa lemon, kita beli dua gelas, pekan ini lagi diskon. Ummah lebih memilih koka kola saja. Dan kita nangkring sekitar 30 menit di imar ditemani kue dengan gambar serdadu inggris dan kue jagung. Ada beberapa kebutuhan pula yang harus dibeli di weekend ini seperti pewangi dan cairan pencuci piring.

P_20180728_112215.jpg

Sempat kefikiran buat tidak jalan-jalan saja di tiap akhir pekan, tapi waktu sepanjang itu hanya diam di rumah, rasanya penat juga. Waktu di Sukabumi ada Kebun, ada kolam, disini ga ada. Mungkin bisa memulai untuk menanam pohon di pot?

Nonton di fb dari video yang dishare temen, saya mengajak Najmi di siang hari untuk membuat pawai dari mobil-mobilannya. Hanya sesaat sebelum Ozil datang setelah sekian lama dan mereka melanjutkan keasyikan dunia mereka dengan bermain batu.

P_20180728_130737.jpg

Yah, hampir sering melihat begitu hijau menatap rumput tetangga. Hingga pengen mencoba menanam rumput yang sama, rumput toko, rumput istrinya kerja, rumput buka travel umroh, rumput coba buka usaha mebel, rumput banting stir ke perumahan, rumput sukses di bisnis kuliner. Ada keresahan-keresahan seperti itu. Tapi belum juga berbuah tindakan. Hanya cerita, ide dan pemikiran. Adakah manfaatnya? Ilmu hanya potensi kekuatan. Untuk mengubahnya menjadi kekuatan maka harus kita lakukan. Come On! kapan kita lakukan?

Ahad, 29 Juli 2018

Ada teman yang memulai usahanya. Ini berarti udah kesekian kalinya ada teman yang memulai usaha, ada yang kue, ada katering, ada yang travel, ada properti. Dan sekarang mebeul. Alhamdulillah. Zaman terus melaju cepat, kita pun harus bisa lebih cepat.

Pertanyaan yang sering saya tanya adalah, kok berani? Saya tidak pernah mendapat jawaban utuh, hanya teman ini bilang ya dengan memulai sekarang pun sudah cukup untuk rumah tangganya. Mungkin seperti itulah usaha, ada kekuatan ajaib yang bisa membuat sesuatu yang sepertinya tidak mungkin menghasilkan tapi ternyata berhasil. Hanya bagi orang yang sudah diridhoi Allah SWT. Kenapa tidak? Ada rejeki masing-masing.

Lalu pertanyaan kedua adalah : Daripada dapat modal? Tidak ada jawaban pasti yang bisa saya terima. Orang cenderung tertutup untuk masalah ini.

Entrepreneurship adalah topik yang menarik, apalagi kalau lihat chairul tanjung, bob sadino, sandiaga uno, pak fajar, asman abnur, atau yah seperti teman yang sudah bisa punya mobil, berangkat umroh, rumah bagus, sekolah anak-anak bagus, jadi donatur, ikut pengajian, jam kerja yang rendah. Hah.. Tapi sejauh ini hanya bisa belajar dari buku aja, saya belum berani.

Karena bapak saya juga pengusaha, seorang wirausahawan, namun ternyata jujur belum sesukses mereka. Jadi mau jadi pengusaha tapi pengen aman.

Dulu saya fikir jadi karyawan adalah jalan yang aman. Setidaknya saya bisa mengusahakan anak-anak saya sekolah dan kuliah dengan baik. Tapi setelah menjalani selama 8 tahun belakangan, kok rasanya grafiknya malah bertemu pada BOP, dimana pemasukan = pengeluaran. So how? Bagaimana kita sekarang?

Dan pertanyaan itu masih menjadi motivasi saya untuk berani melangkah, bagaimana dan kapan? Saya masih menunggu petunjuk dari Allah SWT. Saya masih belum merasa mantap.

P_20180729_092748.jpg

Hari ahad, akhirnya setelah melambung tidak jelas seharian malam kami naik busway sampai matraman lalu pulang lagi menikmati roti maryam dan donut. Malam itu film brigsby bear menjadi pelengkap kebahagiaan sederhana kami.

P_20180729_092725.jpg

P_20180729_192216.jpg

Ditemani fikiran yang masih mengambang tentang dimana kami harus tinggal? Apa pekerjaan saya seharusnya? apa lagi yang harus saya perbaiki? Dzikrullah dan bersabar, inilah pusaka yang coba saya genggam selalu.

Hidup sudah ada yang ngatur. Seperti sebuah ayat yang mengingatkan saya :

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS Annisa : 32)

2 tanggapan untuk “Catatan Harian 69 : Kembali Keliling Jakarta dengan Transjakarta”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.