Refleksi

Sudah Punya Rencana Hidup Untuk Tahun Depan ?


Penyusunan rencana itu sangat membantu dalam menjaga agar segala keputusan, keuangan, sikap hingga fikiran itu tetap fokus pada tujuan yang sudah kita setting dari awal.

Jeleknya, di satu sisi saya orangnya cepat bosan dengan sesuatu yang sudah bisa diprediksikan. Ya sih, meskipun sudah berencana, sejatinya hidup tidak ada yang pasti, pasti ada saja yang melenceng dah unpredictable. Namun tetap saja kenyataannya tetap lebih dominan yang bisa diprediksi. Walhasil, di satu sisi perencanaan mengurangi keseruan hidup juga.

Dari zaman kuliah. Sebagai generasi korban buku-buku tentang pengembangan diri, saya terbiasa membuat resolusi dan perencanaan hidup. Sesuatu seperti : Apa sih cita-citamu? kapan mau dilaksanakan? Berapa biaya yang dibutuhkan? Dengan penghasilan sekarang kamu perlu berapa lama mewujudkannya? Dengan waktu yang ada, berapa jumlah target yang pantas kamu tentukan?

Jauh sebelum saya menemukan law of attraction. Sudah pernah mempelajarinya? Ini salah satu sumbernya :

 

 

 

Law of Attraction ini pertama kali dikenalkan dosen pengembangan diri saya semasa kuliah : Pak Lisanudin Ramdani. Saat itu beliau sedang mengulas buku Quantum Ikhlas karya pak Erbe Sentanu:

quntum-ikhlas-katahati-institute
sumber

Lalu saya di geber lagi saat bertemu Video tuliskan mimpimu yang ini :

 

Ya, video itu cukup nyetrum  saya untuk menuliskan mimpi, menempelkannya di taman. Sebuah video yang membuat saya penasaran dengan IPB & Mesjid Al-Hurriyah nya. Hingga akhirnya di tahun 2011 saya berkesempatan main kesana, dalam rangka ikut job fair nya jobstreet & interview kerja di Susi Air. Meskipun pada akhirnya tidak diterima. Namun alangkah bahagianya karena saya bisa merasakan kesejukan IPB dalam hidup saya, meskipun tidak sempat kuliah disana.

Begitulah. Lalu saya pun mencoba menuliskan cita-cita saya, seingat saya cita-cita yang sempat saya tuliskan adalah :

1. Membeli komputer di tahun 2010, Alhamdulillah ini sudah terwujud hingga sekarang komputer pentium 4 dengan RAM 512 MB nya udah jadi bangkai.

2. Keliling Indonesia saat lulus S1, Hingga saat ini mimpi yang satu ini masih belum terwujud.

3. Menulis 3 Buku setiap tahun, hingga saat ini mimpi yang ini pun hanya ada di awang-awang.

4. Menikah di usia 25 tahun. Alhamdulillah di tahun 2013 saya menikah. 1 tahun lebih cepat dari yang direncanakan.

5. Daftar haji di tahun 2014. Alhamdulillah ini pun sudah terwujud. Meskipun telat 3 tahun dari yang direncanakan.

Sebenarnya ada 3 hal lagi yang gagal saya raih dalam hidup saya untuk saya wujudkan.  Meskipun saya ingin sekali. Tapi memang belum pernah saya tuliskan.

logo-ui-no_frame_lightbackground
Kampus Impian itu Bernama UI sumber

Yang pertama adalah kuliah di Kampus negeri sperti UI, ITB, IPB atau UIN. Kuliah di Jakarta atau Bandung sepertinya keren. Tapi tahun itu ekonomi keluarga sedang tidak begitu baik dan saya tidak sebegitu yakin untuk bisa kuliah di luar kota.

Ketika pengumuman PMDK dan SPMB dibuka di sekolah, untuk minta uang 150ribu untuk biaya pendaftaran test saja saya tidak berani. Saya sempat nangis di ruang guru. Saya sudah putus asa buat bisa kuliah. Tapi Pak Baban waktu itu bilang : “Jangan menyerah, insya allah ada jalan” saya ingat sekali. Saya coba mengajukan beasiswa ke Lippo dan Sampoerna. Yang dikirim cuma Sampoerna, karena saya tidak punya cukup uang untuk beli prangko. Ternyata saya tidak lulus. Amplop dokumen untuk beasiswa Lippo akhirnya saya buka sendiri. Saya terharu saat baca surat rekomendasi dari guru-guru saya.

15390765_1852757294995348_4911579487318527754_n
Pak Baban, Salah satu orang baik dalam hidup saya sumber

Hingga sekarang saya masih terkagum-kagum dengan lulusan Universitas Negeri. Meskipun sekarang saya bekerja dengan lulusan-lulusan universitas negeri, bahkan pernah sekali waktu team saya sendiri dari universitas negeri dan menginterview lulusan universitas negeri. Kekaguman saya kepada lulusan universitas negeri belum juga luntur. Itulah kenapa saya sangat berharap untuk bisa menguliahkan anak-anak saya kelak ke universitas negeri, khususnya UI. Alhamdulillah jika bisa masuk kedokteran.

Saya pun masih berharap untuk bisa kuliah S2 di Salemba. seperti dijelaskan disini, Hanya keadaan masih belum memungkinkan. Beasiswa harus kelas reguler, sementara saya masih harus bekerja. Mau biaya mandiri, cukup mahal. Akhirnya saya masih ngelus dada untuk kuliah disana. Saya tertarik untuk mengambil S2 Tehnik, agar sesuai dengan pekerjaan saya. Cuma mahal. Sekitar 21Juta/Semester. untuk jurusan yang agak terjangkau hanya untuk jurusan-jurusan sosial & umum. Itu jelas tidak nyambung. Saya takut malah jadi menghambur-hambur uang saja. Masih banyak kebutuhan yang lain.

Baiklah, itulah cita-cita pertama saya yang ternyata gagal. Meski demikian saya masih bersyukur, biar kuliah di kampus swasta, saya masih diberikan pekerjaan yang baik dan posisi yang setara dengan lulusan kampus negeri. Teman sedepartemen saya sekarang adalah lulusan Tehnik Mesin UI & Insinyur Double Degree dari Jerman.  Saya cukup bangga dengan hal itu. Cukuplah mengobati kekecewaan atas kegagalan tadi.

View this post on Instagram

Congrats

A post shared by Matlaul Anwar (@anwar_matlaul) on

Harapan gagal yang kedua berhubungan dengan cinta.  Pffft. Oke, saya coba ceritakan dengan singkat : Saya mengagumi seorang teman dari SMP. Saya sering berdo’a & berharap agar bisa bersanding dengannya. Tapi lain harapan saya, lain pula yang saya lakukan walhasil Dia makin bersinar dengan prestasinya, sementara saya makin buruk dengan pilihan hidup saya.

Hingga ketika saat yang menentukan itu tiba. di 10 tahun kita kenal, saya memutuskan untuk menghentikan harapan saya kepadanya, saya tidak bisa untuk terus mengejar seseorang yang memang membutuhkan saya, saya pasti bisa serius untuk menjadi lelaki yang lebih baik meski tanpa harus bersamanya. Hingga saat itu Kita memang masih berkomunikasi. Tapi saya putuskan untuk mundur sebelum harapan itu saya ungkapkan.

Saya memang tidak pernah mengutarakannya, tapi saya pernah setidaknya menunjukkan perasaan itu kepadanya. Dari balasan dan apa yang saya rasakan, juga dari beberapa postingan di blognya, akhirnya saya tahu bahwa dia tidak suka sama lelaki seperti saya, meskipun kita pernah akrab di waktu kecil. Alasan itu juga yang membuat Saya yakin dengan keputusan untuk mundur.

Meskipun 10 tahun saya coba berharap & berdo’a, tapi dia bukan jodoh saya. Ada yang lebih baik yang pasti Allah sediakan untuk saya.

Cinta karena manusia memang mengecewakan, karena manusia tidak memiliki kebahagiaan dan tidak bisa memberikan kebahagiaan. Tidak seharusnya saya mencintainya seperti itu, saya harus mencintai seluruh manusia, bahkan apapun, karena Allah SWT.

Saat ini saya bahagia dengan istri saya. Saya mengenalnya saat kami sama-sama mengikuti program di sebuah pondok pesantren di Sukabumi. Kenal 3 tahun, berkomunikasi lewat email, sms & telepon. Tidak pernah berduaan dan tidak pernah saling menyentuh sebelum menikah. Saya melamarnya lewat telepon di bulan maret. Saya bahagia bersamanya hingga kami memiliki 3 orang anak sekarang. 2 diantaranya kembar dan semua laki-laki.

Itulah jodoh. Sejauh orang yang saya kenal pun begitu. Tak perlu waktu lama jika memang sudah dituliskan namamu untuk bersanding disamping namanya.

1266199_625518470834306_2029159253_o
Yusri Mathla’ul Anwar & Wulan Sagita

Harapan yang ketiga adalah tentang PNS. Seperti yang diceritakan dalam tulisan ini. Ya, jadi PNS adalah cita-cita dan pesan bapak dari saya masih SMA. “Jadilah PNS, agar hidupmu nanti kalau sudah tua bisa lebih tenang.” Itulah salah satu pesan bapak yang masih saya kenang. Perasaan sudah kurang total apa coba? Belajar sudah, do’a dan ridho orang tua sudah dikantongi. Tapi ternyata saya tetap gagal. Jadi PNS belum jadi jalan hidup saya.

Alhamdulillahnya, biarpun saya bukan PNS. Saya masih yakin. Rezeki dari Allah untuk saya dan keluarga pasti selalu ada. Saya tidak akan mati, sebelum rezeki saya habis.

Itulah 3. Cita-cita saya yang lain yang tidak berhasil saya raih dalam hidup ini. Tapi saya masih memiliki cita-cita lain yang masih sangat indah, diantaranya :

  1. Tentulah menjamin pendidikan anak. Seperti ditulis disini.
  2. Mengumrohkan orang tua
  3. Umroh bersama istri
  4. Membangun pondok pesantren Tahfidz & Kitab Kuning
  5. Membangun perusahaan sendiri

Itu adalah cita-cita dari segi saya pribadi dan untuk tabungan saya di dunia dan diakhirat. Masih ada cita-cita lain agar lebih bermanfaat di masyarakat :

  1. Saya sering sedih melihat tetangga yang tidak mampu, yatim & janda. Ingin membantu mereka tapi penghasilan saya sering habis untuk nafkah keluarga & bayar beberapa kewajiban. Saya ingin membantu mereka semua. Semoga saya bisa mendapat penghasilan yang lebih baik untuk ini.
  2. Saya sering sedih masih belum bisa membelikan kue yang enak, mengajak makan ataupun membelikan baju baru untuk orang tua. Minimal setengah tahun sekali saja. Saya baru mampu bisa menambah untuk biaya nafkah sehari-hari & pendidikan adik. Semoga saya bisa membantu lebih baik. Andai saja penghasilan saya bisa lebih baik dari sekarang.
  3. Saya ingin menyumbang diacara-acara yang menjunjung syi’ar Islam & Rasulullah SAW. Seperti maulid, Isra’ Mi’raj, dzikir akbar. Tapi saya masih bisa menyumbang dengan jumlah sedikit. Saya sering tertarik dengan jama’ah kaya yang bisa menanggung biaya panggung atau penceramah. Semoga suatu saat saya mampu untuk hal tersebut.
  4. Saya sering sedih melihat fakir miskin di perjalanan, sebagian jadi pengemis, jualan barang-barang yang tidak seberapa. Pun saya hanya bisa ngasih seberapa. Kepada mereka, bahkan supir gojek yang cuma dibayar 5ribu. Saya ingin bisa ngasih 50ribu atau 100ribu setiap bertemu. Semoga saya mampu untuk semua itu.

Sebanyak apapun amalan. Yang penting adalah ikhlas agar diterima Allah. Pun semoga hati saya selalu bersih dan dijaga Allah dari sifat musyrik dan munafik. Aamiin.

Semua mimpi ini, semoga bukan hanya untuk saya. Tapi semoga Anda semua yang baca pun bisa meraihnya. Aamiin.

 

 

 

 

9 tanggapan untuk “Sudah Punya Rencana Hidup Untuk Tahun Depan ?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.