Surat untuk Masa Depan

Rahasia Hidup Saya : Rencana 27 Tahun Kedepan


Saat kacau datang lagi, maka hal terburuk yang bisa terjadi adalah : Gak bisa mikir. Badan terjaga, tapi otak gak mau mikir. Yah. Sebuah kehancuran pun finally datang. Bukan tidak mau berfikir sama sekali, hanya tak mau berlogika dan matematika.

Semalam, saya nonton film Imitation Game, Tentang Alan Turning, penemu komputer di era 1951 tapi Dia bunuh diri di usianya yang ke 41. Seperti halnya Chesteer Benington, Popularitas dan kekayaan pun ternyata tidak bisa memberinya kebahagiaan. Tragis.

Memikirkan hal-hal besar, di satu waktu saya ingin tetap membenarkan teori. Ya, Teori adalah karya besar penelitian, analogi dan statistik manusia. Untuk mempercepat dan memudahkan kita generasi selanjutnya.

Ibu saya bilang : Jangan ikuti kafir, tawakal aja. Dengan arti lebih kuat ke pasrah. Mungkin kata-kata ibu ada benarnya. Meskipun saat itu saya ngotot, bahwa penting adanya ikhtiar, ghiroh atau kewaspadaan, disamping tawakal. Hati tetap tawakal. Ikhtiar harus yang terbaik.

Hanya saja, saat ikhtiar saya rasa mulai terlalu dominan. Rasa-rasanya saya membenarkan tentang perkataan ibu. Logika dan rasionalitas, membuat kita mengesampingkan perasaan dan spiritualitas. Tak sedikit orang-orang yang mengorbankan begitu banyak luka hanya demi logikanya.

Ibu oh ibu… betapa ingin saya mencuri hati beliau. Untuk selalu menatapku, meridhoiku, meski aku hanya mencintainya dengan kesederhanaan caraku. Tapi entahlah, belakangan ini sulit untuk membuat Ibu percaya pada setiap keputusanku. Aku kadang takut lelah dan goyah, tapi mau bagaimana, apa mau dikata. Aku anak, dan beliau adalah Ibu.

Beberapa hari yang lalu, saya mulai sadar. Bahwa apa saya harus pasrah? Memilih untuk pasrah, ya saya hanya memiliki kemampuan sebatas jadi engineer, dengan gaji segini, entah sampai kapan. Mungkin sampai tua… Betapa hati mulai gamang, lelah dan benar-benar menyerah, tak tahu jalan rejeki lain daripada pabrik. Mungkin kilah saya, apa sebaiknya saya mnyerah saja, pasrah dan ridho dengan yang ada. Menikmatinya, mengondisikannya.

Di sisi lain, atau apakah saya tetap memilih untuk mencoba hal-hal baru yang lebih besar, berjangka panjang, tanpa perlu di sukai orang lain, berhenti memaparkan excuse pada diri sendiri?

Saya masih belum punya mobil, belum bisa menghajikan orang tua, belum bisa membangun pesantren… Ah, dunia saja terus.

Bukankah saya kemarin sudah bilang pada diri sendiri bahwa saatnya saya bisa menilai diri saya, tidak hanya sebagai ayah, tapi benar-benar seorang ayah yang harus bertanggung jawab bagi keluarganya. Memberi contoh, hah… Saya hanya memarahi dan menasehati diri. Tapi sepertinya hati dari ini sedang tidak mau mendengarkan.

Mobil, itu saja, mungkin Innova. Cukup untuk mengantar saya pulang ke Sukabumi.
Ya, bahkan untuk sebuah mobil pun. Gaji sekarang belum cukup.
Haruskah saya jadi miliuner, dapat gaji 1 Milyar, pertahun, atau taruhlah 100juta per bulan. Penghasilan, bersih. Wow! Bagaimana caranya? Apa yang bisa saya lakukan untuk mendapatkan penghasilan sebanyak itu? (Dilain pihak, Dedi Corbuzier udah 2 milyar per bulan aja penghasilannya).

Saya mungkin bisa mendapat pekerjaan dengan gaji 2 kali lipat, tapi untuk menjadikannya 2X lipat lagi saja sudah susah. Apalagi kalau lebih dari 10 kali lipat.
Yah. Apa ya, bisnis yang bisa saya jalani? Tulisan ini? Membuat buku? Aduh, agak susah nih buat benar-benar menulis serius. But I waste my time here! Saya kudu dapet usaha, kegiatan yang bisa benar-benar menghasilkan my first 100jt/month.

Entahlah, usaha apa, bisnis apa, jadi artis? Jadi pembicara? Ah… apa yang bisa bikin orang tertarik? Alat apa yang bisa saya ciptakan?

Baik, mari kesampingkan logika. Dan cobalah berandai-andai.
Ketika bertemu seorang triliuner yang terinspirasi cerita saya, mengajak bertemu dan mempercayakan usahanya di kala dia pensiun. dengan kepemilikan saham 10%! Dan itu setara perkembangan 100juta. Gampang kan?

Atau ketika bertemu dengan seorang teman yang bekerja di Oil & Gas, lalu mengajak saya bekerja sebagai trainer, pun pembayaran selain gaji, tapi juga saham. Dan ternyata saya dapat 100jt/bulan.

Tulisan saya jadi viral, lalu dapat penghasilan 100jt/bulan. Ini yang paling simpel, hahaha. Entah, micro improvement apa yang bisa saya lakukan untuk mencapai 100jt pertama saya. Masih tidak terlihat.

Sejauh ini, jalan saya justru menuju kehidupan spiritual. Ah, mungkin hanya mobil. Tanpa 100 juta/bulan. Cukuplah punya pesantren, membaktikan diri disana selepas anak dan istri dapat terjamin pendidikan dan kehidupannya. Sekali lagi, ini hanya ikhtiar.
Begitulah.
28 tahun-29 tahun Entah, di Jakarta, atau di Batam

30 tahun 3 tahun lagi… mungkin masih disini, di Jakarta atau di Batam

31 tahun -32 tahun Najmi kelas 1 SD, Target hafalan Najmi 10 Juz. kita punya 4 tahun. Mungkin punya adek bayi lagi, Fatimah atau Mu’adz?

33 tahun masih di Jakarta, dan rumah akhirnya lunas,
34 tahun-35 tahun Jabir & Jarir Masuk SD

36 tahun -37 tahun Akhirnya naik haji

38 tahun Najmi kelas 1 SMP, kita ke gontor, mungkin masih di Jakarta, tetap begini, 1 minggu sekali pulang, mungkin di Batam. Mudah2an Najmi keterima. Lifetime plan. Hafalan terus berlanjut, semoga najmi hafal 30 juz. Fatimah masuk SD

39 tahun-40 tahun-41 tahun Jabir & Jarir Masuk gontor, nyusul kakaknya

42 tahun-43 tahun-44 tahun Najmi lulus dari gontor, Fatimah/Mu’adz ikut nyusul ke gontor. Apa gontor menerima putri? Mungkin HK. Kalau tidak gontor.

Jabir & Jarir masuk aliyah.

45 tahun-46 tahun Jabir & Jarir lulus dari Gontor.

47 tahun -48 tahun Najmi lulus dari kampus, kampus no fees, tetep kerja & beasiswa, as me

49 tahun Fatimah/Mu’adz lulus dari gontor50 tahun Jabir & Jarir lulus kuliah

51 tahun52 tahun53 tahun All was lolos

54 tahun55 tahunΒ 56 tahun57 tahun

Yah… That was struggle life. Ada perjuangan untuk memastikan mereka sekolah dari usia saya 32 tahun hingga 55 tahun, total 23 tahun.

Hidup bapakmu ini sudah banyak untuk kalian nak πŸ˜€
Hidup yang struggle sebenarnya, mungkin sebenarnya apa yang akan saya jelang. start di usia 32 tahun. Saat cicilan rumah sudah selesai. We have 5 years buat nyicil mobil. Setelah itu. All should be go so smooth to ensure that they could be schooll.

Biaya sekolah sebenarnya terjadi saat mereka masuk SMP-SMA, lepas itu 1 tahun pertama mereka kuliah, dan setelahnya, mereka harus berjuang. perlu dana hingga 2juta per sekarang, ya, sama seharga nyicil mobil/rumah.

Jadi… It’s a big invest. Yah, harusnya saya sadar, bahwa apa pun itu, sebesar apapun, ingatlah Allah yang Maha besar. Kita tak pernah bisa apa-apa.

Sejauh ini, Allah selalu memberikan solusi dan kenyataan yang lebih baik dari apa yang saya rencanakan. Tapi, hati in masih belum terlalu optimis. Bukan tidak percaya bahwa Allah akan menjami rezeki, hanya, untuk rezeki terbaik, perlu perjuangan yang terbaik. Saya masih ragu untuk menyebut saya sebaik itu.

Well, tetep ikhtiar, semangat dan pasti Allah menolong kalau kita taat.

16 tanggapan untuk “Rahasia Hidup Saya : Rencana 27 Tahun Kedepan”

  1. waw… target nya sampai keluarga besar…
    pasti besar dong usahanya…

    aamiin… semoga sukses terus usahanya ya

  2. Enggak kok. Kecil.
    Malah belum berpenghasilan πŸ˜‚.
    Cumaa, ya, itu tadi. Kita sendiri yang harus percaya dan yakin dengan usaha yang kita lakukan πŸ˜‡πŸ˜„

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.